Sejarah Aliansi Militer Madoera dan Belanda

Organisasi militer di Madura dikenal dengan nama Barisan. Barisan (pasukan) keberadaannya diterima dengan hubungan militer antara penguasa Madura dengan Belanda, dan Barisan sendiri berasal dari jasa militer yang disediakan oleh penduduk. Dijadikannya barisan sebagai sebagai suatu institusi khusus dengan maksud untuk melayani kepentingan-kepentingan penguasa kolonial. Sejarah aliansi militer antara Madura dan Belanda dimulai pada tahun-tahun awal Belanda masuk ke Jawa, yang pada saat itu pula kerajaan-kerajaan Madura sedang berusaha untuk melepaskan diri dari hegemoni Mataram. Usaha untuk melepaskan diri dari pengaruh kekuasaan Mataram itu mendapat perlindungan Belanda. Sebagai gantinya, kekuatan-kekuatan militer Madura diminta untuk mendampingan Belanda selama Perang Saudara ke 3 di Jawa (1746-1755), perang melawan Surapati di Jawa Timur (1767), perang melawan Inggris di Batavia dan Ciliwung (1800), Perang Bone (1825) dan yang terpenting Perang Diponegoro (1825-1830).

Sejarah Barisan dapat dibagi menjadi empat fase. Fase pembentukan yaitu berbarengan dengan periode dengan periode perluasan kekuasaan Belanda di jawa, tahun 1816 sampai 1830. Pada tanggal 1 November 1816 Raja Bangkalan menandatangani kontrak dengan Belanda yang membebaskan Raja Bangkalan dari kewajiban membayar upeti tahunan kepada Belanda, tetapi sebagai gantinya mengirimkan pasukan untuk menjadi tentara kolonial di Jawa. Raja menyediakan 1.000 serdadu yang dikepalai oleh salah seorang keluarga dekat raja. Serdadu-derdadu itu diperbantukan untuk tiga setengah tahun di Jawa dan Madura, tetapi tidak diperbantukan di luar wilayah itu. Mereka dijatah pakaian, setiap bulan menerima gaji f6 dan 40 liter beras dan masih mendapat sedikit bayaran dari raja. Raja Sumenep juga mengadakan kontrak yang sama pada tanggal 4 Oktober 1817 dan menyediakan 1.080 serdadu untuk membantu pasukan kolonial di Surabaya. Kemudian menyusul ditandatangani lagi kontrak oleh Raja Bangkalan untuk mengganti waktu tiga setengah tahun menjadi lima tahun dan jika diperlukan para serdadu itu akan diperbantukan di luar Jawa dan Madura. Gaji bulanan dinaikkan dari 6 gulden menjadi 7,5 Stuiver (ketip).

Fase kedua, 1831-1858 adalah fase pelembagaan secara permanen barisan. Pada tahun 1831 ketiga raja di Madura masih menandatangani kontrak pembebasan pembayaran upeti kepada Belanda untuk tahun-tahun tertentu, sebagai pengganti pembentukan barisan di ketiga kerajaan itu. Raja Bangkalan menandatangani kontrak pada tanggal 17 Agustus dan tidak terkena peraturan mengirim serdadu-serdadu untuk tentara reguler selama dua tahun dan dibebaskan dari upeti sebesar f13.840 setiap tahun selama lima tahun. Raja Sumenep menandatangai kontrak tanggal 30 Agustus dalam bentuk yang sama, yaitu dibebaskan mengirimkan 1.080 serdadu untuk tentara reguler kolonial selama dua tahun dan dibebaskan penuh dari upeti selama lima tahun. Dan kontrak yang sama pula ditandatangani oleh Raja Pamekasan, dia dibebaskan dari upeti tahunan sebesar f7.010 selama lima tahun. Sebagai ganti pembebasan upeti, ketiga raja itu diwajibkan mengurusi barisan mereka.

Pada tahun 1831 kekuatan barisan terdiri dari infantri, pasukan kuda, artileri dan pasukan pioner. Di ketiga kesatuan barisan itu dipekerjakan 95 perwira dan 2.881 serdadu atau seluruhnya 2.976 personel. Sebenarnya kekuatan barisan tidak merata. Struktur dan besar kecilnya personel tergantung pada keadaan.

Struktur Barisan Madoera Tahun 1831

Fase ketiga adalah fase eksistensi barisan, dari tahun 1858 sampai 1885, dimulai dengan perombakan barisan di Pamekasan pada tahun 1858. Perombakan itu membawa barisan di bawah pengaturan langsung pemerintah kolonial, dengan kata lain terjadi pergeseran kontrol barisan dari tangan pribumi ke dalam kontrol kolonial secara penuh. Para perwira sekarang digaji dalam bentuk uang tunai, sedangkan serdadu-serdadu dibayar dengan hasil tanah percaton, meskipun diusahakan ke arah standarisasi penghasilan. Perombakan di Sumenep dan Bangkalan memakan waktu dua dasawarsa lebih. 

Pada tahun 1882 bersamaan dengan introduksi penguasaan langsung di Sumenep, barisan telah dirombah lebih menyerupai infanteri daripada sebuah kekuatan gabungan. Pasukan kuda dan artileri di Sumenep dan Bangkalan, pasukan pionir dan pasukan piekenier di Sumenep di hapuskan. Di Bangkalan perombakan ini selesai pada tahun 1885. Barisan di Sumenep dan di Bangkalan diambil alih langsung dibawah administrasi kolonial. Kemudian pada tahun itu pula Menteri Jajahan menolak usulan untuk menjadikan barisan sebagai tentara reguler batalyon ke-19.


Pada fase terakhir dalam sejarah barisan, dari tahun 1885 sampai akhir kekuasaan Belanda, tidak banyak terlihat perubahan setelah perombakan tahun 1885, kecuali dalam bentuk ikatan antara Belanda dengan barisan, dan dengan beberapa inovasi kecil di bidang administratif.

Daftar kontribusi barisan kepada penguasa kolonial Belanda banyak sekali, dan dianggap oleh Belanda sebagai tanda loyalitas raja-raja dan rakyatnya. Barisan diperbantukan dalam berbagai perang dan ekspedisi untuk melawan pemberontakan-pemberontakan yang muncul di Kepulauan Indonesia seperti Perang Jambi dan Palembang (1833), Perang Padri di Sumatera Barat (1835-1837), Ekspedisi ke Bali (1846, 1848, 1849), Ekspedisi Bone pertama di Sulawesi (1859), Perang Aceh (1837,1875, 1876, 1877, 1886) dan Perang Lombok (1894).


Melalui jasa-jasa mereka, peranan barisan mendapat penghargaan dari kerajaan dan paling tidak dari masyarakat luas. Belanda melihat bahwa kesediaan orang-orang menyambut barisan rupanya karena adanya "semangat keprajuritan" dari orang Madura. Tetapi dalam kondisi tanah pertanian yang miskin itu, barisan juga merupakan sebuah lapangan yang mendatangkan penghasilan pokok. Bagi orang-orang kebanyakan, bergabung dalam barisan akan berarti pula : pekerjaan, penghasilan, penghargaan, dan yang terpenting berkesempatan untuk mobilitas sosial. Bagaimanapun jabatan staf biasanya direkrut dari bangsawan, sedangkan jabatan komandan di rekrut dari anak atau keluarga dekat para raja sendiri.


Judul Buku : Perubahan Sosial Dalam Masyarakat Agraris Madura Tahun 1850 - 1940
Pengarang : Prof. Dr. Kuntowijoyo

0 Comments
Comments Tweets
Comments Facebook

0 komentar: